Selamat Datang di Situs ini...

Terima kasih Sdr/Sdri sudah mengunjungi situs ini. Situs ini kami dedikasikan untuk memberikan informasi kerohanian, KHUSUS bagi anggota GEREJA MASEHI ADVENT HARI KE TUJUH. Silahkan MENDAFTAR dan CARILAH materi-materi kerohanian yang Sdr/Sdri butuhkan di "Daftar Arsip". Kami juga MENGHARAPKAN komentar Sdr/Sdri untuk MENINGKATKAN pelayanan kami. Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati.

Rabu, 19 Juni 2013

Nama Allah (YHWH)

PENGGUNAAN NAMA ALLAH YANG DITERJEMAHKAN

Dalam KJV: YHWH terdapat 6519 kali yang diterjemahkan menjadi LORD = 6510 kali,GOD = 4 kali, JEHOVAH = 4 kali,

Namun gantinya menyebut YHWH maka Bangsa Israel akan sebutkan Adonay (setiap kali menemukan kata YHWH). Adonay = Lord = Pencipta, Pemilik, Penguasa.


Tidak seorangpun tahu bagaimana harus melafalkan YHWH. Nama YHWH dianggap menjadi hak patent Bangsa Israel pada masa itu, karena nama itu hannya menunjuk Dia, yang disembah oleh Bangsa Israel. YHWH dianggap sebagai nama jati diri atau nama seseorang



Fakta1: Nama yang Allah perkenalkan pada bangsa Israel bukanlah bahasa surga, tapi nama yang berlaku pada waktu itu.


Arti El= Besar, Kuat, kuasa., Theos = God = Allah
“El” adalah sebuah kata umum bagi bangsa Semit yang digunakan menyebut pribadi Dia Yang Mahatinggi. “El” ini sesungguhnya merupakan nama ilah dari suku bangsa kanaan (penganut kepercayaan banyak ilah, tetapi mereka percaya bahwa El adalah Ilah tertinggi Pencipta langit dan bumi)


Menggunakan Nama Illah bangsa Semit ini, Allah memperkenalkan diri pada Abraham Isak Yakub sebagai El. El-Shadday. Jadi “El” kemudian menjadi nama Ilahi pertama yangdikenal nenek moyang Israel: “Aku lah El-Shadday, Hiduplah dihadapanku dengantidak bercela (kej. 17:1).

El-Elyo,Allah yang maha tinggi, Pencipta langit dan bumi)


Nah, bangsa Israel baru keluar dari perbudakan, dan kehilangan jati diri akan Allah ini, maka El-Shadday memperkenalkan diri-Nya pada Musa sebagai YHWH, (Kel6:2-3). Untuk lebih meyakinkan kedekatan hubungan nya dengan Ilahi orng israel selalu menyelipkan El pada nama-nama mereka. Bandingkan dgn Isma-el, Isra-el,M-el-kisedek,El-lisha


Nama Allah yang kita pakai saat ini adalah nama yang menjadi “tren” bahasa Indonesia untuk menyebut Dia Yang Maha Tinggi, bukan karena itu dari bahasa Arab, jadi tidak salah jika kita pakai nama “Allah”.


Fakta2: Para penerjemah Alkitab Ibrani ke Yunani itu oleh para Sarjana Yahudi.


Pada abad ke II S.M. sekitar 70 (LXX) sarjana Yahudi ditugasi oleh Otoritas Yahudi (Sejenis Majelis Ulama) untuk menyalin Alkitab PL dari bahasa Aslinya (Ibrani/Aram) kedalam bahasa Yunani. Nama Alkitab terjemahan itu adalah Septuaginta (LXX)

Dalam kitab terjemahan ini Nama-nama Allah (Ilahi) juga turut berubah Ini menandakan bahwa Nama YHWH itu bukanlah nama Jati diri atau nama Zat Keilahian, melainkan Sebutan Gelar atau Sifat.

Nama-nama Ilahi pada Kitab Perjanjian Baru (Theos=EL, Elohim, EL-Shadday, Eloah, Elyon=God=Tuhan), muncul sebanyak 3984 X dalam buku Septuaginta, dan 1318 X dalam kitab PB. Theos terjemahan dari El, Eloah,Elohim. Sedangkan Theos adalah bahasa umum untuk menunjuk dewa dewi Yunani, dan setiap dewa mempunyai nama jati diri sendiri. Seperti Zeus yang adalah nama dewa tertinggi(dewa segala dewa Yunani). Sedangkaan nama YHWH=Adonai juga di terjemahkan sebagai“Kyrios”=Tuhan. Para penerjemah ini adalah para sarjana Yahudi yang ahli bahasa Ibrani, mungkinkah mereka tidak tahu kalau nama YHWH tidak bolehdi terjemahkan? Mustahil bukan?


Kenapa para penerjemah tidak menggunakan Zeus dibanding Theos? Ada 3 alasan

Pertama
1. Zeus adalah dewa yang populer pada abad ke 2 S.M. semua dewa takluk di bawahnya.
2. Zeus ternyata bukan dewa tertinggi karena ia adalah anak dari dewa Kronos dan dewi Rhea. Dan Zeus memperanakkan banyak dewa dewi lainnya …. Hercules
3. Makatak mungkin di sejajarkan dengan El, Eloah, Elohim yang tidak beranak dan diperanakkan

Kedua
1. Para Filusuf yunani seperti Xenophanes, Plato, Aristoteles, menertawakan dan tidak mau percaya pada dewa-dewa.
2. Tetapi mereka percaya akan eksistensi “Yang Maha tinggi”mereka sebut itu Theos….Hikmat….Logos.
3. Namun mereka tidaK kenal…tetapi mereka menyembahnya
4. Paulus menemukan mezbah pemujaan yang bertuliskan ..agnosto theo (aknosto Theo) = Allah yang tidak dikenal.

Ketiga: Kata Theos adalah sebutan, gelar umumuntuk menyebut pribadi Ilah Yang Maha Tinggi.




Fakta3: Yesus tidak permasalahkan penggunaan Nama Allah yang telah di terjemahkan. Contoh:

Keluaran3:6 “Lagi Ia berfirman: ‘Akulah Allah (Elohim) ayahmu, Allah (Elohim) Abraham, Allah (Elohim) Ishak dan Allah (Elohim) Yakub.’ Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah (Elohim).”


Matius 22:31, 32 “Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda: ‘Akulah Allah (Theos) Abraham, Allah (Theos) Ishak dan Allah (Theos) Yakub? Ia bukanlah Allah (Theos) orang mati, melainkan Allah(Theos) orang hidup.’”

Kata“Allah” di sini dalam bahasa Ibrani menggunakan kata: Elohim. 250 tahun sebelumYesus lahir, Alkitab bahasa Ibrani telah di terjemahkan ke dalam bahasaGrika. Namun Yesus tidak protes atau persalahkan bahkan saat Yesus membaca ayat ini di Matius 22:32 itu tidak menggunakan Elohim, tapi Theos.



Fakta4: Perjanjian Baru di tulis dengan bahasa Yunani, murid-murid menyebut kata Allah itu dengan sebutan Theos dan YHWH/Adonai itu dengan Kurios. Apakah mereka Salah? Bahkan Yesus sendiri tidak membantah saat murid-murid tidak menyebut “Yeshua” pada Yesus, melainkan menyebut-Nya “Kurios”.


Yohanes 13:13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan(Kurios), dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan (Kurios).


Bahkan saat Yesus membacakan kitab-kitab Perjanjian Lama di Sinagog-sinagog menggunakan perkamen-perkamen PL yang sudah di terjemahkan ke dalam bahasaYunani, Dia tidak protes atau menyalahkan. Padahal terjemahan gulungan-gulungan kitab itu tidak lagi pakai YHWH,Elohim, melainkan menggunakan “Theos”


Ingat! dalam Markus 15:34, saat Yesus mati di salib? Saat itu Yesus tidak berteriak:“YHWH, YHWH, lama sabaktani?, tapi yang Dia sebutkan adalah: “Eloi, Eloi,Lama Sabaktani?” (Masakkan Yesus tidak tahu kesucian nama YHWH yang harus di masyurkan seperti yang dia katakan sendiri dan justru menggunakan nama Aloi? Masakkan saudara-saudara di forum ini yang lebih pinter dari Yesus?)


Sebagian informasi ini di kutib dari blog: http/www.bibleissue.blogspot.com



SEKILAS TENTANG PEMUJA YHWH & PENGARUHNYA

Ada apa dengan Pemuja Yahwe, dan siapakah mereka? Pemuja Yahwe atau lebih tepat disebut ‘Pemuja Nama Yahweh’ adalah perkembangan baru dalam kekristenan di Indonesia yang dipengaruhi Yudaisme dan dipopulerkan di Indonesia sejak dua dasawarsa lalu.

Latar belakang gerakan ini sudah terjadi jauh seabad sebelumnya. Pada abad-19, ada gerakan internasional kebangkitan Yahudi (Zionisme) yang kala itu hidup dalam diaspora khususnya di Asia Utara (Rusia), Eropah dan Amerika. Puncaknya adalah dibentuknya World Zionist Organization dengan kongres pertama di Basel (1897). Gerakan ini semula bersifat politik dengan tujuan mendirikan negara Yahudi di Palestina (Erets Yisrael), dan dari gerakan ini terdapat beberapa aliran termasuk yang menekankan Religious Zionism. Umumnya kalangan Yahudi perantauan sudah hidup secara sekular, namun ada kalangan orthodox yang berpendapat bahwa zionisme harus dicapai dengan mengembalikan orang Yahudi kepada agama dan bahasa mereka, yaitu Ibrani.

Misi Religious Zionism adalah mengajak umat Yahudi sedunia untuk menggali lagi agama Yahudi dengan Torat mereka dan menghidupkan kembali bahasa Ibrani bukan sekedar sebagai bahasa tulis tetapi juga sebagai bahasa percakapan yang selama berabad-abad menjadi bahasa lisan yang mati. Pengaruh Zionisme dengan kekuatan uang mereka menyebar ke Eropah dan Amerika Serikat. Dalam kelompok orthodox Yahudi itu ada juga sekte yang lebih jauh ingin mengembalikan ‘Nama Yahweh (YHWH, tetragrammaton)’ sebagai nama diri Tuhan, nama yang selama ini di kalangan Yahudi tradisional dianggap terlalu suci untuk diucapkan sehingga disebut dengan nama ‘Adonai’ (Tuhan) atau ‘Ha-Shem’ (Nama Itu) dan di kalangan Yahudi berbahasa Inggers disebut ‘The Lord’ (LORD). Semangat fundamentalisme agama Yahudi ini bukan saja terjadi di kalangan orang Yahudi sendiri, namun dengan mulainya banyak orang berziarah ke Israel, mereka juga mempengaruhi orang-orang Kristen yang datang ke Palestina dan terutama yang ada di Amerika Serikat.


PERKEMBANGAN DI AMERIKA SERIKAT



Abad-19 terjadi kekosongan rohani di Amerika Serikat sehingga banyak aliran baru tumbuh yang menekankan khususnya nubuatan tentang Akhir Zaman, yaitu Adventis (1844), Saksi-Saksi Yehuwa (1874), dan kemudian Pentakosta (Church of God, 1886). Disamping nubuatan Akhir Zaman, Adventisme menekankan hari Sabat dan kesucian makanan, Saksi-Saksi Yehuwa mengajarkan ajaran Unitarian/Arian, dan COG menekankan karunia roh. SSY-lah yang pertama terpengaruh nama YHWH (tetragramammaton) sehingga pada pertemuan mereka di Ohio (1931) mereka secara resmi menggunakan nama Jehovah Witnesses (Saksi-Saksi Yehuwa) dan menganggap nama YHWH itu suci dan bahwa penerjemahan nama itu adalah perbuatan setan.

Dari kalangan Church of God, ada yang kemudian terpengaruh Adventisme dan menekankan hari Sabat dan membentuk Church of God, 7thday. Tiga tokoh dibelakang gerakan yang merintis pemujaan nama Yahweh berasal dari gereja COG, 7thday, yang kemudian memisahkan diri di tahun 1933 menjadi COG, 7thday, Salem, yaitu Andrew N. Dugger, Clarence O. Dodd dan Herbert W. Armstrong. Dodd setelah mengklaim didatangi dua malaekat dan dikeluarkan dari COG, 7thday, mendirikan Assembly of Yahweh yang menggunakan kembali nama Yahweh, merayakan hari Sabat, dan menjalankan bulan baru dan hari-hari raya Yahudi, dan menerbitkan majalah ‘The Faith’ (1937) untuk menyebarkan pandangannya itu.

Amstrong sefaham dengan Dodd dan di ditahbis menjadi pendeta di COG, 7thday, Oregon. Pandangannya kontroversial karena sama seperti Dodd, yang merayakan hari Sabat, kesucian makanan, dan merayakan bulan baru dan hari-hari raya Yahudi sesuai hukum Musa, ia menubuatkan bahwa orang-orang Inggeris dan Amerika adalah keturunan dari 10 suku Israel yang terhilang. Ia dikeluarkan dari COG, 7thday, karena ajarannya yang ekstrim, dan ia kemudian mendirikan Worldwide Church of God (1946) dan Ambassador College dan menerbitkan majalah Ambassador dan The Plain Truth yang disebarkan ke seluruh dunia. Pandangannya mengenai keadaan sesudah mati sama dengan Saksi-Saksi Yehuwa, yaitu bahwa orang mati dalam keadaan tidur rohani dan pada saat penghakiman akan dibangkitkan atau dimusnahkan. Ia menolak Trinitas dan beranggapan bahwa roh kudus bukan pribadi hanya kekuatan ilahi sama dengan pandangan SSY (binitarian).
Pada umumnya pemuja nama Yahweh menolak Trinitas dan menganut faham unitarian modalis (sabelianisme, yaitu Yahweh itu Esa dan menyatakan diri [modal] sebagai bapa dan firman) atau unitarian subordinasionis (arianisme, pandangan SSY bahwa Yahshua itu ciptaan lebih rendah dari Yahweh). Dan sekalipun kepercayaan mereka bervariasi, pada umumnya mereka sepakat bahwa nama Yahweh, Elohim dan Yahshua harus dipulihkan dan tidak menyebut diri sebagai Kristen karena nama itu dianggap berasal kafir. Pemuja Nama Yahweh mudah terpecah-belah dan cenderung mendirikan gereja dengan ke khasannya sendiri seperti House of Yahweh yang menolak pre-eksistensi Yahshua. The Assembly of Yahvah lebih memilih nama Yahvah dan The Assemblies of Yah memilih nama Yah daripada Yahweh, yang lainnya memilih ejaan sendiri untuk menyebut nama Yahweh dan Yahshua.
Angelo B. Triana, murid Dodd, menolak surat-surat Paulus, namun kemudian ia menjiplak King James Bible dan mengganti nama-nama ‘LORD’ dengan Yahweh, ‘God’ dengan Elohim, dan ‘Jesus’ dengan Yahshua dan menyebutnya Holy Name Bible (PB-1950 dan PL&PB-1963) sejalan dengan terbitnya New World Translation dari Jehovah Witnesses / Saksi-Saksi Yehuwa (PB-1950 dan PL&PB-1961) yang memunculkan kembali nama YHWH. John Briggs, murid Triana mempopulerkan nama Yahshua dan kemudian mendirikan Yahveh Beth Israel.

Murid Triana lainnya, Jacob O Meyer terpecah dari Assembly of Yahweh dan mendirikan Assemblies of Yahweh (1960), dan gereja ini pecah lagi dan dibawah Donald Mansager mendirikan Yahweh’s Assembly in Messiah (1980). Adanya skandal seks beberapa pendeta mendorong Mansager memisahkan diri dan mendirikan Yahweh’s New Covenant Assembly (1985), dan pecah lagi menjadi Yahweh’s Assembly in Yahshua (2006) yang percaya bahwa ‘bahasa Ibrani adalah bahasa yang digunakan Yahweh di surga dan di taman Eden dan digunakan dalam penulisan kitab suci PL dan PB. Bahasa Ibrani adalah induk semua bahasa di dunia.’ Putranya, Alan Mansager berbeda pendapat dengan ayahnya dan mendirikan Yahweh’s Restoration Ministry. Assembly of Yahweh kemudian pecah lagi dan Robert Wirl mendirikan Yahweh’s Philadelphia Truth Conggregation (2002).

Dari perkembangan sidang jemaat pemuja nama Yahweh yang bertebaran dimana-mana yang umumnya tidak berhubungan satu dengan lainnya itu, kita dapat melihat bahwa mereka mudah sekali terpecah-pecah menjadi berbagai fraksi dan memberi nama baru sesuai dengan penekanan mereka, namun sekalipun begitu, ada beberapa butir yang sejalan, yaitu:

(1) Adanya pengaruh Saksi-Saksi Yehuwa dan sekte Yahudi yang menekankan perlunya dikembalikannya nama ‘YHWH’ (tetragrammaton) sekalipun ditafsirkan berbeda-beda (Yahweh/Yahvah/Yah dll.) dan kembali kepada bahasa Ibrani. Ada juga yang menekankan kembali nama Elohim dan Yahshua;

(2) Mereka menolak Kitab Suci yang memuat nama-nama Lord, God, dan Jesus dan menggantinya dengan nama-nama Ibrani Yahweh, Elohim, dan Yahshua. Saat ini ada belasan versi ‘Kitab Suci’ yang diterbitkan pemuja nama Yahweh’ di Amerika Serikat;

(3) Menjalankan hukum Musa dengan konsekwen seperti merayakan Sabat, Kesucian makanan (halal-haram), dan merayakan bulan baru dan hari-hari raya Yahudi, dengan ibadat seperti agama Yahudi. Perjamuan Kudus dirayakan setahun sekali pada malam sebelum Pasah Yahudi dan menolak perayaan Natal sama halnya dengan Saksi-Saksi Yehuwa;

(4) Menolak Trinitas, ada yang menganggap Yahweh sebagai Unitarian Modalis (Sabellianisme, Yahweh itu esa dan firmannya menjadi manusia Yahshua) atau Unitarian Subordinasionis (Arianisme, Yahshua itu lebih rendah dari Yahweh seperti pandangan SSY), atau berbagai ajaran non-trinitarian lainnya seperti tidak mempercayai pre-eksistensi Yahshua dll. Namun, sekalipun demikian banyak yang mensyaratkan agar dibaptis kembali dalam nama Yahshua;

(5) Tidak merupakan satu organisasi yang solid melainkan merupakan sidang-sidang jemaat yang independen dengan ke khasannya masing-masing, namun jelas membedakan diri dengan kekristenan pada umumnya dan lebih bercorak agama Yahudi dengan semua ritualnya.


Dari beberapa butir kesimpulan ini menjadi jelas apa yang diyakini oleh Pemuja Nama Yahweh yang kemudian masuk ke Indonesia sekitar tahun 1990.



PERKEMBANGAN DI INDONESIA


Pengaruh sekte ‘Yahwis’ Yahudi yang dialami beberapa orang yang berziarah ke Israel dan Pemuja Nama Yahweh dari Amerika Serikat, mempengaruhi beberapa kalangan kristen di Indonesia sejak dua dasawarsa yang lalu. Sekalipun mirip dengan gerakan itu di mancanegara, di Indonesia ada ciri khas yang ditunjukkan, yaitu semangat anti Arab/Islam dengan penolakan mereka akan nama’Allah’ yang dianggap nama berhala, mengingat bahwa tokoh-tokoh awal Pemuja Nama Yahweh di Indonesia umumnya berasal dari penganut agama Islam. Ini berimbas pada semangat anti-Kristen karena umat Kristen juga menyembah ‘Allah.’

Di tahun 1980-an, Hamran Ambrie, tokoh muslim yang masuk Kristen merintis usaha penginjilan untuk menobatkan umat Islam melalui wadah ‘The Good Way’, kemudian bersama dengan dr. Suradi yang ditobatkannya pada tahun 1982, mendirikan Christian Centre Nehemia (1987) dan menerbitkan majalah dengan judul Gema Nehemia dan brosur dan traktat. Semula mereka masih menggunakan nama Tuhan dan Allah, namun setelah kematian Hamran Ambrie (1987) dan berziarah ke Israel, Suradi terpengaruh yudaisme dan menekankan penggunaan bahasa Ibrani khususnya nama ‘Yahwe, Eloim & Yesua.’ Misi Nehemia ditujukan untuk menginjili umat Islam dan membina mereka menjadi penginjil untuk menjangkau umat Islam. Dr. Suradi (yang kemudian berganti nama menjadi Suradi ben Abraham lalu diganti lagi dengan Eliezer ben Abraham) kemudian dengan nama ‘Iman Taqwa Kepada Shiraatal Mustaqien’ lalu ‘Bet Yesua Hamasiah’ pada akhir tahun 1990-an menerbitkan lima seri traktat berjudul ‘Siapakah yang Bernama Allah itu?’ Kelima traktat itu kemudian disatukan, dan lalu terbit traktat ke-6 dan ke-7.

Pada umumnya dalam traktat itu disebutkan bahwa ‘Allah’ adalah nama dewa Arab (dewa bulan/pengairan) masa jahiliah, ini didasarkan penafsiran harfiah potongan kutipan dari beberapa buku, padahal kalau kutipan itu dibaca selengkapnya pengertiannya berbeda. Karena itu bila umat Kristen menggunakan nama itu berarti menghujat Yahwe. Puncak dari penerbitan seri traktat itu adalah pada tahun 2000 diterbitkan ‘Kitab Suci Torat dan Injil’ (Kitab Suci 2000). Kitab Suci ini 99,9% merupakan plagiat dari Alkitab (TB) yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dan hanya beberapa nama diganti seperti ‘TUHAN’ dengan YAHWE, Allah dengan Eloim, Yesus dengan Yesua, dan beberapa nama lain seperti ‘Musa’ dengan Mose, ‘Daud’ dengan Dawid, Yohanes dengan ‘Yokhanan,’ dll.

Sekalipun dr. Suradi menunjukkan kepedulian sosial dengan mengadakan makanan gratis di rumahnya, ternyata dalam hal agama, fanatismenya menjadikannya bersikap anti sosial. Fanatisme akan ‘nama Yahwe’ yang radikal, dilakukan dengan menyerang secara frontal agama Islam dan juga Kristen. Ia tidak segan menggunakan ayat-ayat Al-Quran sesuai penafsirannya untuk menyerang Islam. Karena sikapnya yang mengganggu kerukunan itu, oleh Forum Ulama Umat, Bandung, Suradi bersama Poernama Winangun dikenai Fatwa Mati (Gatra, 10 Maret 2001). Kenyataan ini menyebabkan Nehemia tutup dan Suradi menghindar ke mancanegara. Beberapa pengikut Suradi mengidap fanatisme yang sama bahkan Endang Yesaya sempat masuk penjara selama empat tahun. Beberapa pengikut lainnya menjalankan militansi yang sama, bahkan tim UKS yang membelanya menyebut ‘Allah’ itu nama berhala Iblis, dari kalangan ini juga keluar plesetan LAI sebagai Lembaga Alat Iblis, karena LAI menerbitkan Alkitab yang menyebut nama ‘Allah.’

Pada tahun 2002, kelompok sejenis bernama Pengagung Nama Yahweh menerbitkan Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan, yang sama dengan KS-2000 melakukan plagiat terjemahan LAI dan hanya mengganti nama ‘TUHAN’ dengan YAHWEH, dan ‘Allah’ dengan Tuhan. Sekalipun mengaku bahwa usahanya dihasilkan oleh gerakan Roh Kudus, namun dari buahnya diragukan apakah itu Roh Kudus yang diberitakan Alkitab, soalnya mereka melakukan plagiat Alkitab (TB) terjemahan LAI tanpa izin dan mengikuti terjemahan nama Yahweh sesuai The Word of Yahweh yang diterbitkan oleh The Assembly of Yahweh, gerakan pelopor pemuja nama Yahweh di Amerika Serikat, tetapi tidak sehurufpun ada penghargaan terhadap Lembaga Alkitab Indonesia yang nyaris semua terjemahannya diplagiasinya tanpa izin itu. Pembenaran diri kelompok ini terlihat dalam Prakata Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan dimana mereka menyalahkan:

(1) Yudaisme orthodok, karena mengganti nama YHWH dengan Adonai;
(2) Septuaginta, karena menerjemahkan nama ‘Yahweh’ ke bahasa Yunani Kurios; dan
(3) Perjanjian Baru Yunani, yang mengikuti jejak Septuaginta.

Tahun-tahun berikutnya, berkembang generasi baru yang dipimpin pendeta-pendeta muda yang umumnya bergelar teologia. Pdt. Yakub Sulityo diberhentikan dari GBI karena memaksakan pengajaran ‘Nama Yahweh’ dan menganggap nama Allah nama berhala yang menghujat Yahweh, dan mendirikan jemaat sendiri dengan nama Gereja Rohulkudus Surya Kebenaran. Pendeta inilah yang disebut-sebut berada di balik peristiwa keluarnya surat teguran keras yang dikeluarkan oleh Majlis Ta’lim Al-Rodd, Wonosobo disusul yang dikeluarkan oleh Badan Pengurus Pusat Ikatan Mubaligh Seluruh Indonesia pada tahun 2004.

Teguran keras yang dikeluarkannya ‘Majlis Ta’lim Al-Rodd’ (Wonosobo, 28 Mei 2004) ditujukan kepada Pimpinan Lembaga Alkitab Indonesia, dan yang kedua dikirim oleh ‘Badan Pengurus Pusat Ikatan Mubaligh Seluruh Indonesia’ (Jakarta, 1 Nopember 2004) yang ditujukan Dirjen Bimas Kristen Protestan Depag RI dan Lembaga Alkitab Indonesia, dengan tembusan kebanyak pihak pemerintah. Isi surat kedua itu pada prinsipnya menegur dengan keras umat Kristen berdasarkan pertimbangan:

1. Bahwa Allah adalah nama sesembahan umat muslim;
2. Agar menarik semua Alkitab dan buku rohani yang menggunakan nama Allah;
3. Agar menegur dengan keras Gereja-Gereja yang masih memakai nama Allah;
4. Agar memberikan peringatan keras kepada para pendeta, pendeta muda, pendeta pembantu dan para Evangelis untuk tidak menggunakan kata Allah dalam menyampaikan Firman, Seminar dll.

Kelihatan sekali Pemuja Nama Yahweh menempuh segala cara untuk membenarkan diri dan memaksakan pendapat dan kehendak mereka, ini terlihat jelas ketika pada awal tahun 2008, ada Pemuja Nama Yahweh yang memejahijaukan Lembaga Alkitab Indonesia ke pengadilan dengan tuduhan bahwa LAI telah mengubah nama YHWH menjadi Allah dan menuntut agar “Bimas Kristen dan LAI segera menarik semua Alkitab dan buku rohani yang memakai nama Allah. Kedua lembaga ini juga diminta untuk memberikan peringatan keras kepada para pendeta untuk tidak lagi menggunakan nama Allah dalam kotbahnya.” (Reformata, edisi 80, 1-15 Maret 2008).

Sungguh tidak dapat dimengerti bahwa Pemuja Nama Yahweh bisa membuahkan provokasi adu-domba bermotif SARA yang membahayakan itu. Roh apakah yang berada di balik semua ini? Sikap mau benar sendiri, memaksakan pendapat dan kehendak sendiri kelihatannya merupakan mentalitas inheren yang diakibatkan fanatisme nama ‘Yahweh’ itu. Dapat dimaklumi kalau banyak pembicara kristen yang semula terbuka untuk berdiskusi dengan Pemuja Nama Yahweh kemudian enggan meneruskan karena mereka menghadapi orang-orang yang tertutup yang tidak bisa diajak berdiskusi untuk meluruskan kebenaran. Kebenaran tentang ‘nama Yahweh’ mereka adalah harga mati, termasuk anggapan mereka bahwa bahasa Ibrani adalah bahasa surga yang sudah ada dari kekal sampai kekal dan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani. Klaim-klaim yang melawan pendapat penemuan arkaeologis dan penyelidikan sejarah Alkitab.

Seperti diketahui dikalangan umat Kristen berbahasa Arab, jauh sebelum Islam lahir, nama ‘Allah’ sudah digunakan baik sebagai bahasa lisan maupun ketika dituliskan sebagai Alkitab dalam bahasa Arab. Pada abad-6 SM dalam kitab Ezra 5:1/6:14 ditulis ‘Elah Yisrael’ dalam bahasa Aram, dan bahasa Aram merupakan nenek moyang bahasa Arab Nabati dan kata ‘Elah’ itu disebut ‘Ilah’ dalam bahasa Arab. Sejak itu banyak inskripsi dari kalangan Kristen pra-Islam sudah menggunakan nama ‘Allah’ bahkan dalam konsili di Efesus (431 M) sudah ada uskup Arab Haritz bernama ‘Abdullah’ (Abdi Allah). Masa kini 29 juta orang Kristen berbahasa Arab menggunakan empat versi Alkitab Arab yang semuanya menggunakan nama ‘Allah’ (a.l. Arabic Bible, Todays Arabic Version), ini belum termasuk puluhan juta umat Kristen di Indonesia dan Malaysia yang selama empat abad sudah menyebut nama ‘Allah’ yang tertuju kepada El/Elohim/Eloah.

Marilah kita mendoakan saudara/i kita yang terpengaruh ajaran Pemuja Nama Yahweh, dan menyadarkan mereka, agar:

(1) Menyadari agar tidak terkecoh daya tarik ‘kembali ke Ibrani’ karena simpati kembali menggunakan nama ‘Yahweh’ akan menyeret mereka menjadi bagian dari sekte Yahudi yang fanatik dan meninggalkan agama Kristen;

(2) Menyadari bahwa dengan mengikuti ‘Pemuja Nama Yahweh,’ mereka jatuh dalam dosa ‘menghujat nama Allah, nama El/Elohim/Eloah dalam bahasa Arab’ yang selama ini sudah digunakan oleh 29 juta orang kristen berbahasa Arab selama dua milenium dan puluhan juta orang Kristen Indonesia selama empat abad;

(3) Menyadari agar tidak terseret keluar dari iman yang didasarkan Injil Kasih ke arah iman yang dilandasi hukum Taurat yang konfrontatif;

(4) Menyadari bahwa mereka sedang ditarik keluar dari kerukunan beragama dengan sesama penganut umat beragama di Indonesia untuk masuk dalam sikap eksklusif Yahudi yang bersikap kontra dengan semua yang berbau Arab/Islam dan juga yang berbau Kristen. Bagi mereka nama Yesus dan Kristenpun bisa dianggap kafir karena bukan bahasa Ibrani;

(5) Menyadari bahwa dengan mengikuti faham Pemuja Nama Yahweh, mereka akan ditarik keluar dari keyakinan bahwa Yesus itu Tuhan dan merupakan pribadi bagian dari Tritunggal untuk masuk ke dalam ajaran Sabelian yang beranggapan bahwa Yeshua adalah Yahweh sendiri, jelmaan firman yang keluar dari Yahweh; dan

Marilah kita doakan Pemuja Nama Yahweh, karena mereka juga tidak mencerminkan sifat Roh Kudus yang menyatukan, sebab mereka sendiri mudah sekali terpecah-belah (di Indonesia, dalam 7 tahun 3 versi Kitab Suci diterbitkan kalangan ini dan ketiganya tidak seragam).
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.